Harap Seorang Hamba

March 26th, 2008 by rohmatillah

Harap Seorang Hamba

 

Harap

 Berartikah?

 Hidup

 Mati

           Rindu

 Bimbang

 

Akankah
kutemui Engkau kemudian

Akankah
kudapati senyumMu

 

  Aku
kerdil

 Engkau Agung

    Aku sebulir debu

 Engkau pencipta gurun

Tak
berujung

 

Layakkah
aku

Mengharap
cintaMu

 

Lautan
terdalam

Tak
dapat menenggelamkan

Namun
ampunanMu

Tak berhingga

 

Rabb,

Izinkanku

menghadapMu

terbaikku

 

izinkan
aku pulang

dengan
senyuman

-by Ummu Fulan-

 
   

   

   

   

   

   

   

   

   

   

 

 

   

   

   

   

 

 

   

   

   

   

   

 

 

   

   

   

   

 

 

   

 

 

   

 

 

   

 

 

   

 


SAAT

March 26th, 2008 by rohmatillah

SAAT

 

Lihatlah

Ia mengejarmu

Lihatlah

Ia mendekat

Ia terus berlari

Saat kau lengah dan berhenti

 

Langkah tak terlihat

Hingga kau pun

Tak sadar bahwa

Ia mengintaimu

 

Tiba-tiba

Ia mencengkrammu

Erat

Dan kau pun tak dapat

Luput darinya

Tak dapat lagi berlari

Bahkan berdiri

 

Waktu……

Habis

 

 

-BY Ummu Fulan -

Tanda Tanya

March 7th, 2008 by rohmatillah

sucikah putih?

hitamkah gelap?

merahkah marah?

      

bisukah diam?

butakah pejam?

         

hilangkah lenyap?

sunyikah senyap?

       

lukakah perih?

tangiskah sedih?

            

salahkah salah?

benarkah benar?

                  

hidupkah hidup?

matikah mati?

                      

                                  written by -ummu Fulan- on the year 2005′

Smangattt!!!

December 28th, 2007 by rohmatillah

Jangan
Menyerah Saudariku!

Pusing! itulah yang ada di kepala Ida (bukan nama sebenarnya). Sepertinya
‘tuntutan hidup’ mengharuskan dia bekerja, yang itu berarti dia harus bercampur
baur dengan para pria. Ya Allah, kuatkanlah imannya dan berikan sifat istiqomah
dalam menjalankan ketaatan kepada-Mu. Aamiin.

Sebuah tuntutan dari orang yang telah membiayai
pendidikan (kuliah), baik itu orang tua, kakak, paman, bibi, atau yang lainnya
adalah sebuah kewajaran ketika mereka merasa bahwa ‘tugas’ mereka menyekolahkan
seorang anak telah selesai. Lalu, apakah setiap tuntutan itu harus dipenuhi?
Lalu kemudian teringat sebuah hadits dari Rasulullah sholallahu’alaihiwassalam
yang maknanya adalah sebuah kebaikan dibalas dengan kebaikan yang serupa, dan
bila tidak mampu maka dengan mendoakannya (HR. Baihaqi).

Berbagai pikiran mungkin berkecamuk di benak, “Entah
telah berapa puluh juta yang mereka telah keluarkan untuk membiayai kuliahku,
tapi entah berapa yang bisa kubalas, atau entah apakah sebanding yang kudapat
sekarang dengan yang mereka korbankan”
. Di samping tuntutan dari
orang-orang di belakang layar selama proses menempuh perkuliahan, masih pula
dikejar-kejar oleh kebutuhan hidup yang perlu dipenuhi. Dan biaya-biaya tak
terduga yang pada intinya akan mengurangi ‘bekal’ yang masih tersisa.
Seakan-akan semua keadaan itu berteriak bersama-sama, “Kerja! kerja!
kerja!”, “Cari yang bergaji wah!”, “Pendekkan saja jilbabmu, tidak apa-apa,
biar cepat mendapatkan kerja!”, “Lepas cadarmu, tidak ada yang mau menerima
wanita seperti dirimu”, “Jangan cuma kerja yang begitu!”
. Dan
bisikan-bisikan hawa nafsu yang setiap orang pasti memilikinya, dan tidaklah
hawa nafsu itu melainkan mengajak pada keburukan.

 

Saudariku,
kuatkan imanmu!

Dimana
pelajaran tauhid yang selama ini telah engkau pelajari? Dan kemanakah perginya
konsekuensi dari pengenalan nama dan sifat Allah Ta’ala yang telah engkau
ketahui?
Engkau
mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya. Engkau telah mengetahui bahwa
Allah Ta’ala telah mengatur seluruhnya dan tertulis dalam kitab Lauh Mahfuz.
Jauh, jauh sebelum engkau diciptakan. Segala ketentuannya tak dapat dirubah.
Namun, engkau adalah manusia yang menjalankan dengan berbagai pilihan. Dan
engkau akan dimudahkan pada setiap takdir yang telah ditentukan. Dari
pengenalanmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, engkau mengetahui, bahwa
rezeki, kehidupan yang baik dan buruk, seluruhnya telah ditentukan. Maka,
berdoalah! Dan bersabarlah! Serta bersyukurlah dengan keadaanmu sekarang.

…Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya
Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala
akhirat, Kami berikan kepadanya pahala akhirat itu.
Dan kami akan memberi balasan kepada
orang-orang yang bersyukur
. (Al Imraan [3]: 145)

Engkau tidak dapat mengejar tujuan hidup berupa
kekayaan. Dan engkau -seharusnya- tidak menanggalkan pakaian ketakwaan.
Kekayaan telah ditentukan. Nikmat Islam telah diberikan. Keadaan yang diberikan
kepadamu sekarang, insya Allah adalah lebih baik dari yang lain atau yang
sebelumnya. Jika engkau masih memikirkan, antara keinginan yang kuat untuk
tetap bertahan dalam ketaatan menjalankan syari’at, maka bersyukurlah! Karena
itu adalah keadaan yang lebih baik untuk dirimu. Bandingkanlah dengan keadaan
mereka yang tidak perlu bersusah payah mempertimbangkan itu semua. Dan dengan
mudahnya mereka jatuh dalam gelimang dosa. Dan salah satu cara untuk mewujudkan
rasa syukurmu adalah dengan lebih menjalankan ketaatan kepada-Nya.
Perhatikanlah firman Allah ta’ala kepada orang-orang yang telah diberikan
nikmat.

…Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu
mendapat keberuntungan. (Al A’raaf [7]: 69)

Nikmat yang engkau rasakan dalam menjalankan
ketaatan dalam agama Islam adalah jauh lebih baik dari dunia dan segala isinya.
Tidak semua orang Islam dapat merasakan ini. Karena terdapat dua nikmat dalam
Islam. Nikmat karena telah beragama Islam (ni’mat lil islam) dan nikmat
dalam Islam itu sendiri (ni’mat fil islam). Tidak semua orang Islam
mendapatkan nikmat untuk menjalankan ketundukan pada syari’at yang telah
ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan telah dijelaskan oleh Nabi kita
Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam.

Ya! Baiklah! Masih berkutat di pikiranmu.
Bagaimana dengan kebutuhan hidupku?! Bagaimana dengan balas jasaku? Allahumma…
semoga Allah memudahkan jalanmu saudariku. Tidakkah engkau ingat bahwa
masing-masing telah ditentukan rezekinya. Bahkan sampai binatang yang cacat
sekalipun, yang ia tidak dapat mencari makanan sendiri atau mangsa sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji pada hamba-hamba-Nya lewat firman-Nya (dan
sungguh janji Allah Ta’ala adalah benar adanya)

…Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya
Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang
tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya
Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan
(yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi
tiap-tiap sesuatu. (QS. At Thalaq [65]: 2)

Dan ayat ini sejalan dengan sabda Rasulullah
sholallahu ‘alaihi wa sallam ketika memberikan jalan bagi seorang muslim dalam
menghadapi kehidupan di dunia dimana seorang makhluk memiliki berbagai
kebutuhan,

Sekiranya kalian bertawwakal kepada Allah secara
benar maka Dia akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Allah memberi
rezeki pada burung. Mereka berangkat pada waktu pagi dalam keadaan sangat lapar
dan pulang dalam keadaan sangat kenyang. (Hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi,
Nasai, Ibn Majah, Ibn Hibban, dan Hakim. Tirmidzi berkata, hadist ini hasan
shohih)

Saudariku… burung tersebut tentu tidak memastikan
bahwa setiap bulannya harus mendapatkan makanan sekian dan sekian. Namun ia
berusaha untuk mendapatkan apa yang dia butuhkan dan mendapatkan rezeki dari
Allah Subhanhu wa Ta’ala. Maka bersyukur adalah yang lebih layak engkau lakukan
dan dengan demikian maka akan terwujud sikap qona’ah dalam hatimu.

Syaitan menjanjikan kamu dengan kemiskinan dan
menyuruh kamu berbuat kejahatan, sedang Allah menjadikan untukmu ampunan
daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengatahui. (Al-Baqoroh
[2]: 268)

Lalu,
bagaimana dengan balas jasaku?
 Maka dengan menjalankan keta’atan kepada Allah, engkau memberikan balasan
yang insya Allah jauh lebih besar manfaatnya untuk mereka di akherat nanti.
Mengapa? Perhatikan hadits dari Rasulullah sholAllahu’alaihiwassalam berikut
ini (yang secara makna artinya) “Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam hal
kemaksiatan pada Allah.”

Dan dari Abu Huroiroh rodhiallahu’anhu Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,

Barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka
dia menanggung dosanya dan juga menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya,
hal itu tidak mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka. (HR. Muslim)

Maka jika engkau mengikuti mereka dalam sebuah hal
yang dapat menjerumuskanmu dalam kemaksiatan, maka ketahuilah saudariku, engkau
juga telah memberikan dosa-dosa yang semisal kepada mereka. Wal’iyyadzubillah.
Dan berpuluh-puluh juta yang telah mereka korbankan untukmu agar engkau pada
akhirnya menjalankan sebuah kemaksiatan tidak akan memberi manfaat sedikitpun
di akherat nanti dan justru yang terjadi adalah sebaliknya, mereka akan
dimintai pertanggungjawaban atas segala amal perbuatannya. Maka, janganlah ukur
segala sesuatu dengan materi keduniaan. Karena ada kehidupan yang jauh lebih
patut untuk dipikirkan dan dipersiapkan.

Pesan terakhir yang paling baik adalah kalimat
dari manusia terbaik yaitu Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam, dari
Abu Sa’id Al-Khudry rodhiallahu’anhu, dia berkata.
‘Aku
memasuki tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau sedang
demam. Lalu kuletakkan tanganku di badan beliau. Maka aku merasakan panas di
tanganku di atas selimut. Lalu aku berkata. ‘Wahai Rasulullah, alangkah
kerasnya sakit ini pada dirimu’. Beliau berkata: ‘Begitulah kami (para nabi).
Cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami’. Aku
bertanya. ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya ?
Beliau menjawab: ‘Para nabi. Aku bertanya. ‘Wahai Rasulullah, kemudian siapa
lagi? Beliau menjawab:
‘Kemudian orang-orang shalih. Sungguh
salah seorang di antara mereka diuji dengan kemiskinan, sampai-sampai salah
seorang diantara mereka tidak mendapatkan kecuali (tambalan) mantel yang dia
himpun. Dan, sungguh salah seorang diantara mereka merasa senang karena cobaan,
sebagaimana salah seorang diantara kamu yang senang karena kemewahan’
.
(HR. Ibnu Majah, Al-Hakim, di shahihkan Adz-Dzahaby)

 

Jangan menyerah
saudariku!

Rezeki yang kau butuhkan,
tidak hanya bertumpuk pada hiruk pikuk perkantoran.
Tidak hanya terkumpul pada tempat yang memudahkanmu menjalankan
kemaksiatan.

Balas jasamu tidak sekedar materi keduniaan.
Sebuah do’a dan amal sholeh lebih dapat menghindarkan mereka dari kehinaan.
Insya Allah.
Semoga Allah memudahkanmu dalam ketaatan.
Dan memberikan yang lebih baik, yaitu manisnya iman.

Sebuah nasihat bagi diriku dan ukhtifillah…

Sumber artikel: www.muslimah.or.id

Penulis: Ummu Hafidz
Muroja’ah: Ustadz Subhan Khadafi, Lc.

 

kaidah dalam ibadah

December 28th, 2007 by rohmatillah

                        KAIDAH DALAM IBADAH

 

Allah subhanahu wata’ala telah
menjelaskan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah hanya untuk beribadah
kepada-nya. Namun, tahukah kita bahwa ibadah tersebut tak lagi berguna jika
tidak menetapi kaidahnya?

 

Berikut adalah kaidah-kaidah
penting yang mendasari benarnya suatu ibadah;

 

1. Ibadah bersifat tauqifiyyah (instant,
tidak ada peran akal di didalamnya/ berdasarkan dalil).

Allah subhanahu wata’ala menyatakan,

”Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu
syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan
janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”
(Al-Jaatsiyyah: 18)

 

2. Ibadah harus
dilakukan dengan ikhlas, bebas dari dosa syirik.

 Allah subhanahu wata’ala berfirman,

 ” Katakanlah : sesungguhnya aku ini
hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ’Bahwa
sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa’. Barangsiapa berharap
perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan
janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya.”

(Al-Kahfi : 110).

 Apabila ibadah tercampur dengan kesyirikan, maka batillah amalannya.

 ”Seandainya mereka mempersekutukan
Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”

(Al An’am :88)

 

3. Mengikuti
sunnah Nabi Shollallohu ’alaihi wa sallam ( ittiba’).

      Allah subhanah wata’ala berfirman :

 ”Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah.”
(al-Ahzab :21)

 Rasulullah bersabda:

 ”Barangsiapa yang melaksanakan amalan yang tidak ada perinahnya dari kami
maka amalannya tertolak.”
(Hadits Riwayat Muslim)

 

4. Sebagian ibadah telah dibatasi dengan masa dan
ukuran tertentu
, maka tidak boleh melanggar batasannya. Seperti
sholat, puasa Ramadhan, haji dan yang semisalnya, harus dilakukan sesuai dengan
waktunya.

 

5. Ibadah harus dilandasi oleh rasa cinta
(mahabbah), takut (khauf), harap (raja’) dan merendahkan diri hanya kepada
Allah.

      Kewajiban peribadahan tidak akan gugur
bagi setiap muslim/ah dari semenjak baligh hingga meninggalnya. Allah subhanahu
watra’ala berfirman,

 ”Dan sembahlah Rabb-mu sampai kepadamu
yang diyakini
(kematian).;” (Al-Hijr : 99)

 

Dikutip dari
majalah elfata edisi 1 vol. 07 2007, Dalam Kekuatan Ada Cinta.

Sumber :
Haqiqatu Ashufiyyah, Dr. Shalih Fauzan Al Fauzan.

 

nasehat Ibnu Hazm

December 28th, 2007 by rohmatillah

                                    Nasehat Ibnu Hazm


"Jika anda menghadiri majelis ilmu maka janganlah kamu hadir kecuali kehadiranmu
itu untuk menambah ilmu dan memperoleh pahala, dan bukannya kehadiranmu itu
dengan merasa cukup akan ilmu yang ada padamu, mencari-cari kesalahan (dari
pengajar) untuk menjelekkannya. Karena ini adalah perilaku orang-orang yang
tercela, yang mana orang-orang tersebut tidak akan mendapatkan kesuksesan dalam
ilmu selamanya.


Maka jika anda menghadiri majelis ilmu sesuai dengan apa yang telah kami
sebutkan, maka tetapilah tiga hal ini dan tidak ada keempatnya :


Pertama :

Bersikap diamlah engkau seperti diamnya orang yang bodoh


Kedua :

Engkau bertanya seperti bertanya-nya seorang yang ingin belajar.


Dan bentuk pertanyaan orang yang belajar adalah bertanya tentang apa yang tidak
ia ketahui dan bukannya bertanya tentang apa yang ia ketahui. Karena menanyakan
apa yang telah kamu ketahui adalah pertanda lemahnya dan kurangnya akal serta
menyibukkan gurumu dengan perkataanmu, menghabiskan waktumu dengan sesuatu yang
tidak berfaedah. Jika orang yang engkau bertanya kepadanya telah menjawab
pertanyaanmu dan telah mencukupi, maka berhentilah dari pembicaraan. Dan jika ia
belum mencukupi dalam menjawab pertanyaanmu atau menjawab pertanyaanmu sedang
engkau belum faham, maka katakanlah : "Saya belum faham", dan mintalah tambahan
penjelasan darinya. Dan jika ia tidak menambah jawabannya dan diam, atau
mengulangi penjelasannya seperti yang pertama kali dan tidak ada tambahan, maka
tahanlah dirimu dari bertanya kepadanya, kalau tidak demikian maka engkau akan
memperoleh (akibat) yang jelek dan permusuhan, dan tidaklah engkau mendapat apa
yang engkau harapkan berupa tambahan penjelasan.


Ketiga :

Mungkin engkau seorang yang duduk dalam majelis ilmu dan memaparkan seperti
orang alim, dan keadaan yang demikian itu adalah engkau membantah jawabannya
dengan jawaban yang jelas, maka jika tidak demikian keadaannya ada padamu, dan
tidak ada padamu kecuali pengulangan perkataanmu, atau penentangan yang mana
musuhmu tidak melihatnya sebagai penentangan, maka tahanlah dirimu, karena
engkau tidak akan memperoleh dalam pengulangan itu tambahan dan tidak juga
belajar.


Dan jika datang kepadamu suatu perkataan, atau engkau mengkritik suatu
perkataaan dalam suatu kitab, maka hati-hatilah engkau dari menghadapinya dengan
sikap marah yang timbul dari sikap berlebih-lebihan, sebelum engkau yakin
tentang kebatilannya dengan bukti yang pasti, dan juga janganlah engkau
menghadapinya sebagaimana menghadapnya orang yang membenarkan, berbuat baik
kepadanya, sebelum engkau mengetahui kebenarannya, sehingga akhirnya berarti
kamu berbuat dhalim terhadap dirimu dalam kedua bentuk, atau engkau akan jauh
dari mendapatkan kebenaran, akan tetapi hadapilah ia sebagaimana orang yang
bersih hati dari permusuhan dengannya, dan condong kepadanya, karena engkau jika
melakukan hal ini akan mendapatkan pahala yang banyak, dan pujian yang banyak,
dan keutamaan yang merata.


Penulis dalam tulisan ini menasihati orang yang menghadiri majelis ilmu agar
menfokuskan tujuannya untuk memperoleh pengetahuanh yang baru dan ganjaran
pahala dari Allah, bukan mencari kesalahan yang disengaja untuk dibesar-besarkan
atau kesalahan yang jarang (terjadi dari orang alim itu) untuk disebarluaskan.
Karena sikap yang terakhir disebut ini adalah perangai orang yang tercela yang
tidak akan memperoleh keuntungan dalam ilmu.


Penjelasan


Dalam menghadiri majelis ilmu manusia terbagi menjadi tiga macam :


1. Seorang yang jahil (bodoh) yang hanya mendengar dengan seksama.


2. Seorang penuntut ilmu yang bertanya tentang sesuatu yang belum diketahuinya
dan dia merasa cukup dengan jawaban yang memuaskan, jika kurang puas ia meminta
tambahan jawaban dengan tidak mengulangi (permintaan jawaban tersebut), karena
sikap tersebut dapat menimbulkan permusuhan diantara para penuntut ilmu.


3. Seorang alim yang senantiasa mengulangi dan membandingkan (suatu masalah)
dengan dalil dan bukti, jika tidak memiliki dalil maka ia tidak perlu untuk
membandingkannya, lalu ia menasihati para pendengar dan pembaca agar bersikap
netral, dia tidak membenarkan setiap permasalahan dan tidak pula ditolaknya
sebelum ia memeriksanya dengan akal yang sehat, dengan demikian akan terwujud
ilmu itu dan akan besar pahala (yang diperoleh)

Maraji’:
Diterjemahkan dari kitab silsilah ta’lim.

Sumber: www.salafi.or.id

kesabaran berujung kenikmatan

December 28th, 2007 by rohmatillah

Kesabaran Berujung Kenikmatan

Seorang dokter
spesialis luka dalam Riyadh yang bernama Dr. Khalid Al Jubir berkisah tentang
dirinya dan sahabatnya. Beginilah kisahnya, selama kuliah dulu dia memiliki
seorang teman mahasiswa akademi militer. Dalam semua hal dia memiliki banyak
kelebihan dibanding teman-temannya yang lain. Selain baik hati, pemuda ini juga
amat rajin shalat malam dan tidak pernah lalai menjalankan shalat lima waktu.

Pemuda ini lulus
dengan nilai memuaskan. Tentu saja ia sangat ingin senang. Namun tak ada yang
bisa menduga jalannya takdir. Suatu saat pemuda ini terserang penyakit
influensa, dan sejak saat itu fisiknya menjadi lemah hingga mudah terserang
berbagai macam penyakit. Hingga karena komplikasi penyakit yang beragam, ia
menjadi lumpuh. Tubuhnya tidak mampu lagi digerakkan sama sekali. Semua dokter
yang menanganinya mengatakan kepada Dr.Khalid, kalau kemungkinan kesembuhan
untuk pemuda itu sekitar 10% saja.

Pada saat Dr.Khalid
membesuknya di rumah sakit, ia melihat pemuda itu tak berdaya diatas
ranjangnya. Dr.Khalid datang untuk menghiburnya. Namun Subhanallah, apa yang ia
dapatkan justru sebaliknya, wajah pemuda itu cerah jauh dari mendung kedukaan.
Pada wajah itu jelas sekali terpancar cahaya dan kilauan iman.

”Alhamdulillah, saya
dalam leadaan sehat-sehat saja. Saya berdoa kepada Allah Subhanaahuwataa’ala
semoga Anda lekas sembuh.” kata Dr.Khalid membuka pembicaraan. Di luar dugaan
pemuda itu menjawab,”Terimakasih untuk doamu. Sesungguhnya saudaraku mungikn
saat ini Allah tengah menghukumku karena lalai dalam menghafal Al-Qur’an. Allah
menguji saya, agar saya segera menuntaskan hafalan saya. Sungguh ini adalah
nikmat yang tiada terkira.”

Dr.Khalid terpana
mendengar jawaban menakjubkan itu. Bagaimana mungkin cobaan begitu berat yang
tengah dialami pemuda itu dianggap sebagai suatu nikmat? Benar-benar ini adalah
suatu pelajaran baru yang amat berharga bagi dirinya sehingga ia merasa tak
berharga dihadapan pemuda itu.

Dr.khalid teringat
akan sabda Rasulullah Sallallahu A’laihi Wassallam : ” Sungguh mengagumkan
perkara seorang mukmin. Seluruh perkaranya mengandung kebaikan. Hal ini hanya
ada pada seorang mukmin. Ketika ia dikaruniai kesenangan ia bersyukur, maka hal
itu baik baginya. Dan ketika ia ditimpa kesedihan, ia menghadapinya dengan
sabar dan tabah, maka hal itu baik baginya.”
(Riwayat Muslim)

Jujur saja Dr.Khalid
teramat mengagumi ketabahan pemuda itu. Beberapa pekan kemudian ia membesuk
sahabatnya itu, sepupu sang pemuda berkata,”Coba gerakkan kakimu, coba angkat
kakimu ke atas.” Peuda itu menjawab, ”Sungguh saya amat malu kepada Allah untuk
terburu-buru sembuh. Jika kesembuhan itu yang terbaik bagi Allah, aku
bersyukur. Namun, apabila Allah tidak memberikan kesembuhan padaku hanya agar
aku tidak melangkah ke tempat-tempat maksiat aku pun bersyukur. Allah Maha Tahu
yang terbaik untukku.

Allahu Akbar, betapa
kalimat itu sangat menggetarkan. Setelah peristiwa itu Dr.khalid menempuh program
magisternya ke luar kota. Beberapa bulan setelah itu ia kembali dan yang
pertama diingatnya adalah pemuda sahabatnya itu. Dalam benaknya ia berpikir, ”Paling
saat ini ia sedang terbaring lemah di atas kasurnya, jika ia kemana-mana
pastilah ia digotong.”

Ternyata menurut
teman-temannya pemuda itu sudah pindah ke ruang penyiapan untuk mendapatkan
pengobatan alami. Pada saat Dr.Khalid menemuinya, ia tengah duduk di kursi
roda. Dr.Khalid senang sekali melihatnya hingga berkali-kali ia mengucapkan
syukur.

Pemuda itu dengan
spontan menyampaikan kabar gembira yang tak terduga ”Alhamdulillah saya telah
menyelesaikan bacaan Al-Qur’an.” katanya penuh semangat. ”Subhanallah”
Dr.Khalid memekik kagum. Setiap kali membesuknya ia selalu mendapat hikmah yang
semakin mempertebal keimanannya.

Tidak lama berselang,
Dr.Khalid kembali pergi ke luar kota selama empat bulan. Dan selama itu pula ia
tidak pernah bertemu dengan pemuda sahabatnya yang sangat tabah itu. Hingga
saat ia kembali, ia menerima kenyataan yang amat sulit diterima oleh akal
manusia. Namun, bagi Dzat yang Maha Tinggi, bukanlah hal yang mustahil terjadi.
Jangankan hanya sakit, tulang-belulang yang telah hancur pun bisa dihidupka
kembali menjadi manusia yang utuh.

Pada waktu Dr.Khalid
sedang shalat di mushalla rumah sakit itu. Tiba-tiba ia mendengar sapaan
seseorang, ”Abu Muhammad!” Reflek dia menoleh dan pandangan di hadapannya membuatnya
terpana. Ia tak mampu mengucap sepatah kata pun. Benar, Wallahi (Demi
Allah-red) yang berdiri di hadapannya adalah pemuda sahabatnya yang dulu lumpuh
total. Namun di hadapannya kini ia dapat berjalan kembali dengan normal dan
segar bugar. Allahu Akbar, sesungguhnya keimanan lah yang dapat memunculkan
keajaiban.

Spontanitas, Dr.
Khalid menangis. Pertama dia menangis karena terharu dan senang akan karunia
Allah berupa kesembuhan untuk sahabatnya itu. Kedua ia menangis untuk dirinya
sendiri yang selama ini lalai untuk mensyukuri nikmat-nikmatNya.

Ternyata, karunia
untuk sahabatnya tidak hanya sebatas itu. Ia diterima sebagai delegasi
Universitas Malik Su’ud Riyadh, kerajaan Saudi Arabia untuk melanjutkan studi
magisternya. ”Dr. Khalid apa yang saya terima ini justru akan menjadi
malapetaka bagi saya jika saya tidak mensyukurinya.” Paparnya kepada Dr.Khalid

Setelah tujuh tahun,
pemuda itu mengunjungi Dr. Khalid kembali dalam rangka mengantar kakeknya yang
terkena penyakit hati. Dan Subhanallah, ia telah menjadi seorang mayor!

Dr.Khalid kembali
meneteskan airmatanya. Ia berdoa kepada Allah agar pemuda itu selalu dalam
kebaikan dan selalu istiqomah di dalam iman dan islam. Sungguh Allah Maha
Mendengar dan Mengabulkan permohonan setiap hambaNya.

 

(Ummu Faros, dari
penjagaan Allah kepada hamba-hambaNya yang shalih; Khalid Abu Shalih )

Diambil dari :
Majalah Elfata, Volume 07 2007, Kasih sayang di Bulan Suro.

 

al-Haur Ba’da al-Kaur

December 28th, 2007 by rohmatillah

al-Haur Ba’da
al-Kaur

Sesungguhnya fenomena berpaling dari komitmen pada agama ini sungguh telah
menyebar di kalangan kaum muslimin.
Berapa banyak manusia mengeluh akan kerasnya
hati setelah sebelumnya tentram dengan berdzikir pada Allah, dan taat
kepada-Nya. Dan berapa banyak dari orang-orang yang dulu beriltizam (komitmen
pada agama) berkata, "Tidak aku temukan lezatnya ibadah sebagaimana dulu
aku merasakannya", yang lain bekata, "Bacaan al-qur’an tidak membekas
dalam jiwaku", dan yang lain juga berkata, "Aku jatuh ke dalam
kemaksiatan dengan mudah", padahal dulu ia takut berbuat maksiat.

Dampak penyakit ini nampak pada
mereka, diantara ciri-cirinya adalah :
1. Mudah terjatuh dan terjerumus dalam kemaksiatan dan hal-hal yang diharamkan
(Allah), bahkan dia terus melakukannya padahal dahulu dia sangat takut
terjerumus kedalamnya.
2. Merasakan kerasnya hati, nasehat tentang kematian tidak berbekas sama sekali
dalam hatinya, demikian juga melihat jenazah dan kuburan.

3. Tidak mantap dalam beribadah,
sehingga anda (akan mendapati orang seperti ini) tidak menemukan
"kelezatan" dalam menunaikan sholat, membaca al-Qur’an, dan lainnya,
serta malas (melakukan) ketaatan dan ibadah, bahkan mengabaikannya dengan
mudah, padahal ia dulu giat serta bersemangat melakukannya.

4. Lalai dari berdzikir kepada
Allah, serta tidak menjaga lagi dzikir-dzikir syar’iyah (seperti dzikir pagi
dan petang, pent) padahal dulu ia giat dan bersemangat melakukannya.
5. Memandang rendah kebaikan dan tidak perhatian kepada amal kebajikan yang
mudah dilakukan padahal dulu dia orang yang paling teguh dan rajin.

6. Selalu dibayangi oleh rasa
takut pada waktu tertimpa musibah atau problematika, padahal dulu ia tegar
serta teguh imannya kepada takdir Allah.

7. Hatinya cenderung kepada
dunia dan sangat mencintainya hingga ia akan merasa sangat sedih sekali jika
ada sesuatu dalam kehidupan dunia ini yang luput darinya, padahal dulu ia
sangat terikat kepada akhirat dan kepada kenikmatan yang ada di dalamnya, Allah
Ta’ala telah berfirman :

"Tetapi kalian memilih
kehidupan dunia, sedang kehidupan akherat adalah lebih baik dan lebih
kekal."
( al-A’la : 16-17 )

8. Terlalu berlebihan dalam
memperhatikan kehidupan dunianya baik dalam masalah makan, minuman, pakaian,
tempat tinggal, dan kendaraan, padahal dulu ia lebih mengutamakan untuk
mempercantik akhlaqnya dan untuk komitmen serta berpegang teguh pada agama.

Masih banyak lagi sebenarnya dampak penyakit ini. Dan sungguh Nabi telah
berlindung dari al-Haur ba’da al Kaur. Dari ‘Abdullah bin Sarjas ia berkata, "Rasulullah
jika bepergian berlindung dari kesukaran perjalanan, kesedihan saat kembali dan
dari al-Haur ba’da al Kaur
(lemah/malas dalam beribadah setelah dulunya semangat/rajin)."
Dalam riwayat at-Tirmidzi :

"… dan dari al haur ba’da al kaun..".

Berkata Nawawi, "Kedua
hadits ini adalah hadits yang disebutkan oleh para ahli hadist, ahli bahasa dan
ahli gharibul hadits/lafadh asing dalam hadits."
(Syarh Muslim 9/119)

Lalu apakah makna al-Haur ba’da
al-Kaur?

Ibnul Faris berkata : "al-Haur" artinya adalah : kembali, Allah
berfirman :

"Sesungguhnya ia
menyangka bahwa ia sekali-kali tidak akan kembali, tetapi tidak…"

(al-Insyqaaq : 14)

Orang Arab berkata :

Maknanya kebatilan itu kembali
dan berkurang.

Jika dikatakan :

"Kami berlindung kepada Allah dari al haur.

Makna al-Haur adalah berkurang setelah bertambah. (Mu’jamu Maqayis
al-Lughah 2/117)
Ibnu Mandzur menjelaskan dalam "Lisanul ‘Arob" (4/217), ia berkata :
"Dan dalam hadits
"Kami berlindung kepada Allah dari al Haur setelah al Kaur"

Maknanya adalah dari berkurang setelah bertambah, atau dari kerusakan
urusan kami setelah kebaikan.

At-Tirmidzi menafsirkan dengan perkataannya : "Dan makna perkataannya
: ‘al-Haur ba’da al-Kaun atau al-Kaur, kedua kata itu (al-Kaun dan al-Kaur)
mempunyai satu arti, yaitu kembali/berpaling dari keimanan menuju kekafiran,
dari ketaatan menuju kemaksiatan.’" (Sunan at-Tirmidzi 498/5)

Kalau begitu, makna al Haur ba’da al Kaur adalah perubahan keadaan manusia
dari iman kepada kekafiran, atau dari takwa dan kebaikan kepada perbuatan rusak
dan buruk, atau dari hidayah kepada kesesatan. Dan dalam hal ini manusia
berbeda-beda tingkatannya, maka jika seseorang mundur/berpaling ke belakang dikhawatirkan
ia menutup akhir kehidupannya dengan hal yang buruk.

Dan satu hal yang telah diketahui bahwa amal-amal (seseorang) dilihat pada
akhir kehidupannya, dari Sahl bin Sa’ad , bahwa Nabi bersabda :

"Sesungguhnya seorang laki-laki dulunya
beramal dengan amal penghuni neraka, dan sesungguhnya ia adalah penghuni surga,
dan ia dulu mengerjakan amalan penghuni surga, padahal ia adalah penghuni
neraka, sesungguhnya amal-amal itu (tergantung) pada akhirnya."
(HR. al-Bukhari 6607)


Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah berkata :

"Sesungguhnya ada seseorang yang dia beramal
dengan amalan penghuni surga dalam jangka waktu yang lama tapi diakhir hayatnya
dia melakukan perbuatan penghuni neraka dan ada juga orang yang dahulunya
berbuat perbuatan penghuni neraka tapi dia akhiri hidupnya dengan perbuatan
penghuni surga."

(HR. Muslim 2651 dan Ahmad).

Nash-nash hadits diatas dan selainnya menerangkan kepada kita bahwa yang
paling menentukan amal seseorang itu bukan dari apa yang dilakukannya semasa
hidupnya tetapi dalam keadaan bagaimana ia mengakhiri hidupnya.

Oleh karena itu pembahasan masalah ini sangat penting sekali, jangan sampai
ada seseorang diantara kita yang mengira ia telah sukses melalui jembatan dan
sampai di daratannya dengan aman disebabkan komitmennya terhadap agama, serta
selamat dari kesesatan dan dari al Haur ba’dal Kaur.

Keteguhan/kekokohan hanya dari Allah semata. Allah menguatkan/meneguhkan nabi-Nya, Dia
berfirman :

"Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu,
niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka".
(al-Isra’ : 74)

Oleh karena itu Rasulullah mengajarkan kepada kita agar kita memohon
pertolongan kepada Allah agar Dia mengokohkan kita diatas agama Islam, beliau bersabda
:
"Wahai yang meneguhkan hati, teguhkanlah hati kami diatas
agama-Mu"
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Dan sering kali beliau berkata tatkala bersumpah :

"Tidak, demi Dzat Yang Membolak-balikkan
hati."
(HR
al-Bukhari 7391)

Diantara doa nabi :

"Wahai yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami untuk taat
kepadamu." (HR Muslim 2654)

Seorang yang beriman harus berusaha memeriksa hatinya dan mengetahui
penyakit serta penyebab sakit hatinya, dan berusaha untuk mengobatinya sebelum
hatinya menjadi keras dan akhir hidupnya menjadi jelek. Maka apa penyebab
al-Haur ba’dal Kaur ? dan apa obatnya ?

Sebab-sebab al-Haur ba’dal Kaur adalah :

1. Lemah Iman.

Lemah iman adalah penyebab kerasnya hati, mudah jatuh dalam kemaksiatan dan
malas dari ketaatan, tidak mendapatkan pengaruh dari (membaca) al-Qur’an dan
shalat. Lemah iman juga mengurangi rasa takut dia kepada Allah. Lemah iman juga
penyebab banyaknya terlibat debat dan berbantah-bantahan, tidak adanya perasaan
merasa bertanggung jawab kepada Allah dan beberapa fenomena lainnya. Hal ini
juga disebabkan sikap menjauh dari teman yang shalih serta majelis ilmu, dan
tersibukkan dengan urusan-urusan dunia serta panjang angan-angan, dan
terjerumus dalam hal-hal yang di haramkan. Maka apabila iman seseorang lemah,
maka berubahlah keadaannya, dari hal yang baik & istiqamah menjadi tersesat
dan berpaling. Maka suatu keharusan (bagi seorang muslim yang merasakan
lemahnya iman) untuk mengobatinya. Caranya adalah dengan ikhlas (kepada Allah)
dan membaca serta merenungkan al-Qur’an kemudian takut kepada (siksaan) Allah I
dan bertaubat dari dosa, kemaksiatan, takut terhadap akhir kesudahan yang buruk
serta mengingat mati dan akhirat.


2. Jauh Dari Suasana Yang Penuh Dengan Keimanan.

Seperti majelis ilmu, masjid, al-Qur’an, teman yang shalih, shalat malam,
dzikir dan lainnya. Jauh dari suasana yang penuh keimanan ini akibatnya adalah
berbalik kebelakang (kembali kepada kemaksiatan). Maka apabila seseorang jauh
dari temannya yang shalih dalam waktu yang lama lantaran bepergian jauh atau
suatu tugas atau semisalnya ia akan kehilangan suasana yang penuh keimanan yang
mengakibatkan lemahnya iman dan tidak iltizam lagi, apabila ia tidak segera
memperbaiki jiwanya.

Berkata al-Hasan al-Basri : " Teman-teman kita lebih mahal (nilainya)
dibanding dengan keluarga kita, (hal ini disebabkan) karena keluarga kita hanya
mengingatkan kita kepada dunia, sedangkan teman-teman kita mengingatkan kita
kepada akhirat". Maka selayaknya seorang muslim menjaga komitmennya
terhadap agama dengan cara bersungguh-sungguh dan berusaha menjumpai lingkungan
yang penuh keimanan.

3. Pengaruh Lingkungan (Yang Jelek)

Jika seorang yang beriltizam berada ditengah lingkungan jelek, yaitu ia
hidup bercampur dengan manusia yang bangga dengan kemaksiatan yang dilakukannya
dan asyik berdendang dengan lagu-lagu & nyayian, merokok, membaca majalah,
lidahnya menggunjing & mencela orang yang beriman, dan apabila ia
menghadiri suatu majlis undangan atau acara pernikahan (dikalangan mereka),
didapatinya kemungkaran, pembicaraan-pembicaraan mengenai perdagangan, jabatan,
harta serta masalah-masalah dunia yang mengakibatkan terjatuhnya hati dalam
cinta yang mendalam pada dunia, jika demikian keadaannya maka hati berubah
menjadi keras, dan akhirnya berbalik dari komitmen terhadap agama dan kebaikan
kepada cinta dunia dan kemaksiatan.

Dan apabila ia diuji dengan harta, dengan istri yang lemah imannya atau
anak-anak yang sama dengan ibunya dia tidak mampu teguh bahkan mundur dan
meninggalkan kebaikan dan keistiqomahan. Jika dia berkumpul dengan keluarga,
tetangga dan teman-temannya yang jelek, mendengar kata-kata yang menyakitkan,
ejekan, dan mendapatkan nasehat-nasehat yang menghalanginya untuk beriltizam,
maka akibatnya ia mundur dari beriltizam dan berbalik hingga merugi di dunia
dan di akhirat.

4. Lemah Dalam Pendidikan Yang Benar (Sesuai Agama).

Jika seorang muslim tidak menjaga dirinya dengan pemeliharaan, pendidikan
dan perjuangan, ia akan mundur dan berbalik. Maka ia harus meluangkan waktunya
sesaat untuk bertaqarrub/mendekatkan diri kepada Allah, menginstropeksi
dirinya, mohon ampun dan bertaubat. Dan ia harus meluangkan waktu untuk
mendapatkan ilmu agama, mempelajarinya, membacanya dan mengulangi pelajarannya.
Dan ia harus meluangkan waktunya sesaat untuk berdakwah, sesaat untuk berdzikir
dan membaca al-Qur’an, hingga ia dapat menjaga amalannya itu.



5. Memandang Remeh Dosa-Dosa Dan Perbuatan Maksiat.

Abdullah bin Mubarak berkata :

Aku melihat dosa-dosa itu mematikan hati,

Mengerjakannya terus-menerus menimbulkan kehinaan

Adapun meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati

Dan mendurhakai dosa adalah baik bagi jiwamu



Ibnul Qayyim berkata

"Sesungguhnya diantara dampak negatif dosa
adalah melemahkan perjalanan hati (seseorang) menuju negeri akhirat atau
menghalanginya atau memutuskannya dari perjalanan itu. Dan kadang kala dosa
juga bisa memutar balikkannya ke arah belakang (maksiat dan kekufuran). Hati
itu akan berjalan menuju Allah dengan kekuatannya, jika hati itu sakit lantaran
dosa-dosa lemahlah kekuatan yang menjalankannya".
(al-Jawabul Kahfi hal 140)

Meremehkan dosa-dosa akan berdampak buruk bagi seseorang, diantaranya
menyebabkan bertambahnya dosa, menjauhkan seseorang dari jalan taubat, dan
mengajak untuk tidak menjauh dari pelaku dosa. Lalu ia akan asyik bersahabat
dan duduk bersama mereka (para pelaku dosa dan maksiat). Bahkan dosa-dosa
tersebut mengajaknya untuk menjauh dari orang shalih dan bertaqwa. Dan ini
adalah penyebab utama seseorang tidak istiqomah di atas jalan yang lurus.


6. Tertipu Dan Kagum Terhadap Diri Sendiri

Tidak diragukan lagi bahwa menghadiri majelis ilmu dan berteman dengan
orang shalih menunjukkan bahwa pada diri orang tersebut terdapat kebaikan, akan
tetapi jika telah masuk perasaan tertipu dan bangga terhadap diri sendiri maka
hal ini akan memberi pengaruh jelek terhadap pelakunya.
Jika sudah demikian, ia akan merasa telah sempurna
dan tidak merasa butuh berbuat kebaikan dan beramal shalih lagi. Dan jika
seseorang telah kagum terhadap dirinya sendiri maka akan hilang dari dirinya
perasaan takut terhadap akhir kesudahan yang jelek dan ia akan merasa aman
terhadap kesesatan setelah mendapatkan petunjuk. Hal ini merupakan tanda
lemahnya hati dan penyebab seseorang itu mundur kebelakang tidak istiqamah
lagi.

Jika seseorang kagum terhadap dirinya ia akan tersibukkan dengan mencari
aib-aib orang lain dan menyepelekan untuk memperbaiki aib dalam dirinya. Maka
seseorang harus mengobati jiwanya dengan membuang rasa bangga terhadap diri
sendiri kemudian bersikap tawadhu’, takut serta memperbaiki aibnya dan
bertaubat kepada Allah Ta’ala.

7. Berteman Dengan Orang-Orang Jahat

Seorang teman mempunyai peranan penting dalam membentuk serta mempengaruhi
kepribadian sahabatnya. Jika seorang teman melihat film-film dan
majalah-majalah yang memberikan mudharat/bahaya (bagi agamanya), mendengarkan
lagu-lagu dan musik, maka ia akan mempengaruhi sahabatnya. Dan terkadang
hal-hal yang dilakukan temannya menyelisihi syariat agama tapi ia berbasa-basi
dan tidak mengingkarinya, terkadang ia melihat temannya tidak taat beribadah
dan meninggalkan sunnah-sunnah nabi, maka ia pun terpengaruh dan meninggalkan
keistiqamahannya.


Oleh karena itu seseorang harus memilih teman yang shalih yang membantunya
untuk taat kepada Allah, dalam hadits yang shahih disebutkan bahwa :

"Seseorang itu mengikuti agama temannya, maka
hendaknya seseorang melihat siapa temannya".


8. Ada sebab-sebab lainnya yang menyebabkan seseorang meninggalkan
keistiqomahan, diantaranya :

# Lemahnya kesungguhan dalam berpegang teguh (terhadap agama) dan tidak sabar
atas kesulitan-kesulitan dan musibah yang menimpanya.

# Panjang angan-angan, berlebih-lebihan dalam menerapkan hukum agama
terhadap dirinya diluar batas kemampuan (ekstrim).

# Penyakit-penyakit hati dan lisan yang menimpanya.

# Kepribadian yang lemah dan sikap selalu mengekor kepada orang lain.

# Kegagalan-kegagalan yang menimpa pada masa lalu dan dia sulit keluar
darinya.


Lalu Bagaimana Cara Penyembuhannya?

Disaat kita menyebutkan hal-hal yang menyebabkan ketidak istiqamahan, kita
juga menemukan cara-cara untuk mengobatinya :

Lemah iman obatnya adalah menguatkan keimanan. Penyakit menjauhi dari lingkungan yang penuh
dengan suasana keimanan obatnya adalah mencari dan menjaga serta meningkatkan
lingkungan yang penuh dengan suasana keimanan. Penyakit yang disebabkab oleh
lingkungan (yang jelek) obatnya adalah sabar serta menambah keistiqamahan dan
bersandar kepada Allah. Lemah dalam pendidikan yang benar obatnya adalah
bersungguh-sungguh dalam mencari pendidikan yang benar sesuai dengan agama dan
mengatur waktu serta bersungguh-sungguh memperbaiki jiwa. Dosa-dosa dan maksiat
obatnya adalah taubat dan mohon ampun dan tidak meremehkan dosa-dosa tersebut.

Adapun penyakit hati dan lisan yang mengakibatkan perbuatan jelek maka obatnya
adalah membebaskan diri darinya dan dengan bertaubat yang benar. Adapun teman
yang jelek maka obatnya adalah memilih teman yang baik dan shalih.

Adapula Cara Lainnya Untuk Mengobati Sikap Tidak Istiqamah

1. Ikhlas dan jujur kepada Allah, hal ini adalah sebab terpenting untuk
istiqamah dan menjadi baik:

Ibnul Qayyim berkata :

"Sesungguhnya yang mendapatkan kesulitan
dalam meninggalkan maksiat yang disukainya dan yang sering dilakukannya adalah
seseorang yang meninggalkannya bukan karena Allah. Adapun seseorang yang
meninggalkan hal tersebut dengan jujur, ikhlas dari hatinya karena Allah, ia
hanya merasakan kesulitan di awal kali ia meninggalkannya. Ini semua untuk
mengujinya, apakah ia jujur dalam meninggalkannya ataukah hanya berdusta, jika
ia sabar dalam menghadapi kesulitan ini sebentar saja, ia akan memperoleh
kelezatannya".

(Al-Fawaid : 99)

2. Takut kepada akhir kesudahan/kematian yang jelek (su’ul khatimah)
Seorang yang beriman dan jujur harus takut dari akhir kesudahan yang buruk, dan
waspada dari penyebabnya. Allah berfirman :

"(Ya Allah) wafatkanlah aku dalam keadaan
Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang salih".
(Yusuf : 101)

Suatu malam Sufyan ats-Tsauri menangis hingga subuh, tatkala ia ditanya, ia
menjawab :
"Sesungguhnya aku menangis karena takut su’ul khatimah / mati dalam
keadaan beramal buruk".
(Kitabul aqibah, karya Abdul Haq al-Isbaili
178)


Al-Imam al-Barbahari berkata :

"Dan ketahuilah, bahwa sepatutnya seseorang
ditemani perasaan takut selamanya, karena ia tidak mengetahui mati dalam
keadaan bagaimana, dengan amalan apa ia mengakhiri hidupnya, dan bagaimana ia
bertemu Allah nantinya sekalipun ia telah mengamalkan segala amal kebaikan.
(Syarhu Sunnah 39)

Rasa takut dari akhir kesudahan yang buruk memiliki banyak dampak positif.
Perasaan ini akan mendorong seseorang untuk berserah diri kepada Allah I serta
menghadap kepada-Nya dengan selalu berdoa kepada-Nya. Perasaan takut ini akan
mengajaknya untuk bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan menambah sikap
istiqamah dan kebaikan, dan takut dari berbalik mundur kebelakang.

3. Berdoa

Berdo’a kepada Allah agar melindungi kita dari "al-haur badal
kaur". Nabi r berdo’a :

"Dan kami berlindung dari al-haur badal kaur" (HR Ahmad dan
Muslim 1343, Tirmidzi, Nasai dan lainnya)

Nabi juga banyak berdoa :

"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati
kokohkanlah hatiku diatas agama-Mu"
(HR Tirmidzi)

Kita juga diperintah untuk memohon kepada Allah agar Dia memperbaharui keimanan
dalam hati kita, Rasulullah bersabda :

"Sesungguhnya iman dapat menjadi usang dalam
rongga (hati) kalian, sebagaimana baju dapat menjadi usang, maka mintalah
kepada Allah agar Dia memperbaharui keimanan dalam hati kalian". (HR
Hakim, terdapat juga dalam as-silsilah as-Shahihah karya al-Albani no 1585),
maka hendaknya kita memperbanyak berdoa kepada Allah.

4. Kontinyu dalam beramal shalih dan memperbanyak amal shalih.
Sesungguhnya amal shalih yang dilakukan secara kontinyu oleh seseorang adalah
lebih disukai oleh Allah, sebagaimana sabda Nabi :

"Amal yang paling disukai Allah adalah yang
kontinyu walaupun sedikit …."
(Muttafaqun alaihi)

Jika seorang muslim kontinyu dalam beramal shalih sesungguhnya ia akan
hidup dalam kebaikan dan keistiqamahan, jika ia lemah dan tertimpa rasa putus
asa, maka amal-amal kebaikan yang ia lakukan secara kontinyu ini akan menjadi
tiang penyangga untuk istiqamah, mengembalikan jiwa (yang putus asa), dan
menguasai jiwanya. Maka sepatutnya bagi seorang muslim untuk memperhatikan
dalam mengerjakan amal-amal shalih beberapa perkara ini :

a. Bersegera dan berlomba-lomba dalam beramal shalih, Allah berfirman :
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga
…"
(Ali Imran : 133)

b. Dan terus beramal shalih serta menjaganya :

"Senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri
kepada-Ku (Allah) dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya…"
(HR Bukhari 6137)

c. Lalu bersungguh-sungguh dalam beramal shalih dan memperbanyaknya
kemudian bervariasi dalam beramal shalih supaya tidak membosankan jiwanya.

5. Ibnu Mas’ud berkata :

"Dahulu Nabi tidak terus menerus dalam memberi nasehat lantaran
khawatir kejenuhan menimpa kami". (Bukhari 68)

Maka seorang muslim harus mengambil bagian untuk duduk dalam majelis ilmu
yang memberikannya nasehat, dan dibacakan kepadanya kitab-kitab tentang hal
itu.


6. Ada juga cara lain untuk mengobati fenomena ketidak istiqamahan ini,
diantaranya :
Berdzikir kepada Allah, merenungkan kehinaan dunia, mengoreksi diri, beramal
dan aktif berdakwah.

Akhirnya segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Kita berlindung kepada Allah
dari al-Haur ba’dal Kaur.

"Ya Allah (yang membolak-balikkan hati). Tetapkanlah hati-hati kami
untuk selalu ta’at kepada-Mu. Dan wafatkanlah kami dalam keadaan Husnul
Khotimah."

 

Diambil dari mailing list assunnah@yahoogroups.com

Date: Tue, 9 Aug 2005

Sumber : Copyright @ salafindo.com

 

 

December 22nd, 2007 by rohmatillah

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarakatuh…!!

Blog ini sedang dalam pembangunan…. artikel2 dan content blog…sedang dalam masa pengumpulan dan penyusunan.

Mohon doa dari saudara/i semua… klu mau nyumbang artikel juga boleh….
Ditunggu dengan sabar ya…..

Jazakumullaahu khairan.

Subhanallah, Bahagianya Menjadi Muslimah …!

December 9th, 2007 by rohmatillah

<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Dirinya…

Tetesan
embun yang mengikis batuan

Hembusan
angin yang memberi kesejukan

Mata
air pelega kehausan

 

Indah
bunga surga tak seindah dirinya

Halus
jaring sutra tak sehalus hatinya

 

Tahukah
kau siapa dirinya?

Dialah
wanita

 

       Wanita
adalah makhluk yang tercipta penuh dengan kelembutan, kasih sayang,
serta makhluk pemilik keanggunan. Allah telah menciptakan wanita dari
tulang rusuk pria, yang begitu dekat dengan hati dan juga berdekatan
dengan lengan, sehingga wanita begitu mudah dicintai dan juga selalu
dalam perlindungan. Cinta dan perlindungan, inilah hal yang
sepatutnya diperoleh seorang wanita dan menjadi hak yang amat dasar.
Akan tetapi, seringkali hak ini tidak didapatkan oleh kaum wanita dan
justru sebaliknya, yang diperoleh adalah sikap kasar dan perlakuan
yang tidak adil.

        Dari
masa ke masa, perlakuan yang diskriminatif dan nasib yang memilukan
dialami oleh kaum wanita. Sebelum kedatangan Islam, hampir semua
bangsa dan agama menghinakan kaum wanita. Kalangan Yahudi menganggap
wanita sebagai pembawa kesialan dan dosa karena telah menggelincirkan
nabi Adam. Kaum Nasrani menganggap wanita sebagai sumber kejahatan,
sehingga para pendeta tidak boleh menikah. Masyarakat Hindu bahkan
menganggap bahwa wanita yang ditinggal mati suaminya tidak mempunyai
hak untuk hidup lagi, sehingga ia harus ikut membakar diri bersama
jenazah sang suami. Masyarakat Eropa juga tidak mau kalah dalam
menghinakan wanita. Pada masa Henry VIII, parlemen Inggris membuat
peraturan yang melarang wanita membaca Perjanjian Baru (
Bible)
karena wanita dianggap najis. Tahun 586 M, diadakan konferensi di
Perancis yang hasilnya menetapkan bahwa wanita termasuk manusia
tetapi diciptakan sebagai pelayan kaum pria. Alangkah menyesakkan
dada ketika kita melihat fakta ini, dimana status wanita sebagia
manusia pun masih dipertanyakan dan dibahas dalam sebuah konferensi.
Padahal, tidak satu manusia pun di muka bumi yang tidak lahir  dari
rahim seorang wanita terkecuali Nabi Adam.

 

 

Dari
rahimnya Kau lahir

Dari
air susunya Kau hidup

Dengan
belaiannya Kau tumbuh

 

Lalu,
beginikah caramu membalas?

 

       Hingga
lahirlah seorang manusia mulia yang membawa ajaran mulia, di tanah
Arab. Pada masa itu, masyarakat di tempat ini pun tidak lebih baik
dalam memperlakukan wanita. Wanita dianggap sebagai makhluk yang hina
dan membawa aib. Apabila lahir seorang anak perempuan dalam keluarga
mereka, maka merah padamlah wajah
mereka.
Bahkan karena begitu malunya, seringkali anak perempuan yang lahir
tersebut dikubur hidup-hidup. Islam, yang disampaikan oleh Nabi
Muhammad membawa perubahan yang dahsyat.

Islam sangat memuliakan kaum wanita. Islam
menegaskan eksistensi wanita sebagai manusia dan persamaan hak
kemanusiaan yang dimiliki wanita.
Bahkan,
an-Nisaa
yang berarti wanita diabadikan sebagai nama surah dalam Al-Qur’an.
Perintah Allah kepada para suami untuk memperlakukan istri secara
baik juga tertuang dalam Al-Qur’an surah an-Nisaa ayat 19.

         Hingga
saat ini, hanya Islamlah yang menempatkan wanita pada martabat yang
terhormat dan memberikan perlindungan bagi wanita. Namun,
perlindungan dan kemuliaan yang diberikan oleh Islam kepada wanita
kini tidak dapat diterima oleh segolongan perempuan yang menyebut
diri mereka sebagai pejuang dan pembela hak-hak kaum perempuan, yaitu
kalangan feminis. Sejarah feminisme terkait dengan perjuangan wanita
Barat dalam menuntut kebebasannya, karena pada abad pertengahan
perempuan tidak mendapatkan tempat di tengah masyarakat. Perempuan
pada masa itu dianggap memiliki derajat yang rendah, sehingga tidak
diperkenankan untuk mengurus apapun dan memiliki sesuatu. Sampai
akhirnya pada era renaisance yang diikuti dengan terjadinya revolusi
Inggris dan Perancis, terjadilah pemberontakan secara besar-besaran
oleh orang-orang yang merasa diperlakukan sewenang-wenang, termasuk
di dalamnya adalah kaum perempuan.

Feminisme berlanjut hingga saat ini dengan
tuntutan yang semakin meluas, yaitu kebebasan, persamaan dan
kesetaraan jender. Mereka menuntut adanya persamaan antara pria dan
wanita serta kebebasan memilih peran di tengah keluarga dan
masyarakat, serta partisipasi dalam semua aktivitas di semua level
dan bidang. Kaum feminis mulai menuntut persamaan secara mutlak
dengan kaum laki-laki termasuk dalam urusan kebebasan hubungan
seksual tanpa perkawinan, kebebasan memilih peran dan tugas dalam
keluarga, melaksanakan segala keinginannya tanpa ada batasan dan
tolak ukur yang pasti.

Berbagai tudingan dan pernyataan yang menyudutkan
Islam
mereka lontarkan. Mereka menyatakan
bahwa Islam tidak berpihak pada wanita dan membelenggu wanita dengan
berbagai aturan. Islam membebani wanita dengan berbagai kewajiban,
serta menempatkan wanita di bawah derajat kaum lelaki. Islam
memenjarakan wanita. Masih banyak lagi tuduhan yang mereka lemparkan
kepada Islam. Sungguh, mereka mengatakan sesuatu yang sama sekali
tidak mereka ketahui.

Dalam majalah Fatawa Vol.III/No.4 (Maret 2007)
termuat sebuah artikel yang berjudul “
Susah
Jadi Wanita Muslimah?”. Artikel tersebut membahas tentang
alasan-alasan yang dijadikan oleh kaum feminis sebagai tameng untuk
menentang ajaran Islam, sekaligus semua jawaban yang mementahkan
argumentasi mereka. Berikut ini saya cantumkan ringkasan isi dari
artikel tersebut.

Kaum
feminis mangatakan bahwa sangat susah menjadi muslimah,
diperlakukan
tidak adil dan banyak aturannya. Lihat saja peraturan dibawah ini :

1.
Muslimah, auratnya lebih susah dijaga daripada pria

2.
Muslimah, perlu meminta ijin dari suaminya jika hendak keluar rumah
tetapi tidak sebaliknya

3.
Muslimah, haknya sebagai saksi lebih kecil daripada pria

4.
Muslimah, menerima harta warisan lebih kecil

daripada pria

5.
Muslimah, harus menghadapi kesusahan

mengandung dan melahirkan anak

6.
Muslimah, wajib taat kepada suaminya tetapi suami tidak wajib taat
pada istrinya

7.
Muslimah, talaknya terletak di tangan suami dan bukan padanya

8.
Muslimah, kurang dalam beribadah karena masalah haid dan nifas yang
tak ada pada pria.
 

 

Tetapi,
pernahkah kita lihat kenyataan dibalik itu??

1.
Benda yang mahal harganya akan dijaga dan disimpan di tempat yang
teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiarkan
berserakan di sembarang tempat bukan?Itulah ibaratnya seorang
Muslimah..

2.
Muslimah wajib taat kepada suami, tetapi lelaki wajib taat kepada
ibunya tiga kali lebih utama dari bapaknya, bukankah ibu adalah
seorang wanita?

3.
Muslimah menerima harta warisan lebih sedikit dari lelaki, tetapi
harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada
suaminya. Sedangkan lelaki, perlu menggunakan hartanya untuk istri
dan anak-anaknya.

4.
Muslimah bersusah payah mengandung dan

melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk,
malaikat, dan seluruh makhluk Allah di muka bumi ini, dan jika
matinya karena melahirkan maka syahidlah ia.

5.
Di akhirat kelak, seorang lelaki akan

bertanggungjawab atas empat wanita: istrinya, ibunya, anak
perempuannya dan saudara perempuannya.

6.
Seorang wanita, tanggung jawab dibebankan kepada empat orang lelaki:
suaminya,ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

7.
Seorang wanita boleh memasuki pintu surga yang disukainya cukup
dengan empat syarat saja:

-Shalat
lima waktu

-Puasa
di bulan Ramadhan

-Taat
pada suaminya

-Menjaga
kehormatannya
 

8.
Seorang lelaki perlu pergi berjuang di jalanAllah, tetapi wanita jika
taat akan suaminya serta menunaikan tanggung jawabnya kepada Allah,
akan turut menerima pahala seperti pahala orang yang pergi berjuang
di jalan Allah, tanpa perlu mengangkat senjata.
 

Subhanallah, rasanya tak
ada lagi kata-kata yang perlu saya tambahkan untuk menepis semua
tudingan dari golongan feminis. Kebebasan tak terbatas yang
ditawarkan feminisme pada akhirnya akan membawa manusia kepada
kebobrokan dan kehancuran. Akibat yang telah dapat kita saksikan pada
masa sekarang ini antara lain: merebaknya free sex, pelecehan
seksual, anak-anak bermasalah, dan masih banyak lagi. Sebaliknya,
seorang muslimah sangat patut untuk bergembira, karena ia begitu
terjaga. Apapun yang telah Allah tetapkan bagi muslimah, tidak lain
hanyalah untuk kebaikan dirinya sendiri dan sebagai bentuk kasih
sayang serta perlindungan Allah kepada kita kaum wanita.

 

Akulah
wanita

yang
paling bahagia

karena
Aku begitu berharga

dan
begitu dicinta

 

Aku
tak perlu berlomba

berhias
diri dan menebar pesona

kepada
lelaki buaya

 

Cantikku
adalah taqwa

bukan
bergaya menggoda

Indahku
adalah akhlak mulia

bukan
berbusana terbuka

 

Aku
tak perlu risau

ketika
usia tak lagi muda

karena
cantikku tak akan pudar

tak
seperti  make-up tebal

 

Karena
itulah, Aku berbahagia

kisah di balik monitor:

essay ini rahma buat pada April 2007, ceritanya begini….  kebetulan Forum Ukhuwah dan Studi Islam Fak.Teknik UI / FUSI FTUI sedang mengadakan acara Muslimah On the Move… momennya yah deket2 hari kartini gitu deh, sebagai bagian dari acara itu… diadakan lomba2, nah salah satunya lomba menulis Essay bertemakan muslimah versus feminisme . rahma pikir2 wah kayaknya seru tuh kalo rahma ikutan… kebetulan waktu itu elfata dan fatawa juga mengeluarkan artikel2 yang bisa jadi referensi. Punya bahan, punya tujuan, dan punya waktu luang… ya apa lagi coba yang kurang…
Ya suw! Dengan menyisihkan sebagian waktu luangyang ada… daku susunlah essay yang sekarang ada di hadapan anda, cerita tentang lombanya kayaknya ga perlu dilanjutkan,,, cukup tau segitu ajah. yang penting kan essaynya jadi dan dapat anda baca, tentang hasilnya,,, ya gitu deh pokoknya.

Akhir kata:
selamat membaca dan semoga bermanfaat serta dapat memberikan inspirasi.. Amin!